Antara ateisme dan murtad

Untuk sebagian besar muslim, ada anggapan kalau ateis tidak mungkin dari islam. Mereka melihat kalau ateis pasti dulunya dari Kristen atau agama lain. Sampai-sampai Zakir Naik berkata kalau ateis adaalh orang yang separuh islam, sudah ada ‘la ila’ tinggal ‘ha ilallah’ yang belum. Benar sebagian besar ateis di dunia berasal dari agama lain, tapi bukan karena islam benar.
Yang membuat sedikitnya ateis dari islam adalah substansi murtadin yang ada di dalamnya. Dalam sebuah khutbah jumat yang pernah saya hadiri, disebutkan kalau darah seorang murtadin itu halal. Tidak perduli ia menjadi Kristen, hindu, Buddha, atau bahkan pastafarian. Beberapa kisah yang saya dengar pada nasib murtadin di Indonesia lewat dunia maya adalah penculikan dan penyiksaan. Walau saya belum menemukan kasus pembunuhan, hal ini sudah cukup membuat saya ketakutan. Terlihat saat polesan logika terhapus dan menunjukkan karat, jalan kekerasan jadi pilihan. Sama dengan perilaku para pemimpin Kristen abad pertengahan.
Itu juga yang membuat Negara kita begitu buruknya di mata HAM. Teman saya mengatakan ateis tidak diakui di Indonesia dan saya bias ditangkap. Dan para penangkap saya bias menyiksa saya karena merasa benar dimata hokum dan tuhan khayalan mereka. Sila pertama jelas bertentangan dengan sila kedua. Ketuhanan yang maha esa vs kemanusiaan yang adil dan beradab. Tidak heran kalau umat Buddha terpaksa menciptakan tuhan yme agar diakui di Indonesia dan hindu meletakkan sang hyang widhi wasa disana, Kristen menyembunyikan perawan maria dan tuhan yesus, sementara menunjukkan allah. Dan agama asli dayak dipaksakan menjadi hindu kaharingan.
Saya baru saja menerima undangan diskusi dari salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia. Ini membuat saya berpikir mendalam, haruskah saya mengekspos diri saya di depan rakyat Indonesia dengan resiko intimidasi seumur hidup saya atau tetap bersembunyi dibalik layer sebagai orang yang ‘munafik’. Masalah keyakinan tidak bias dipaksakan dan jutaan orang telah mati demi keyakinan mereka. Haruskah saya mengambil resiko?
Sementara saya telah di wawancara oleh media nasional dan internasional, semua dilakukan lewat email, bukan tatap muka. Dan itupun dari pihak non muslim. Bisakah hasilnya netral bila anda diskusi (yang pastinya akan menjadi debat) bukannya wawancara? Bisakah netral bila anda seorang murtadin sementara rekan diskusi anda muslim? Bisakah netral bila anda sendirian sementara mereka yang hadir ratusan? Bisakah netral saat ini semua dilakukan secara tatap muka? Saya merasa seperti perawan di sarang penyamun.

orang tua yang bijaksana

Sekedar sharing saja nih. Saya waktu kul dulu sering tidur di tempat teman saya yang muslim. Orang tuanya sangat baik, padahal teman saya ini Cuma anak angkat. Beliau tidak pernah membeda-bedakan dia dengan anak-anak kandungnya. Pokoknya keluarga yang super harmonis deh. Tambahan lagi, sang ayah ini seorang yang sangat dihormati di kompleksnya. Ketua masyarakat lah. Padahal ia bukan ulama, hanya dipandang bijaksana dan super sabar dalam menghadapi konflik.
Waktu itu telah kesekian kalinya saya tidur dirumah teman saya itu. Rupanya ia sudah tidak bias nahan lagi untuk bertanya saat melihat kenapa saya tidak pernah sholat dan tidak pernah puasa. Saya bilang terus terang kalau saya tidak menjalankan ibadah karena bagi saya itu hanya mengada-ada. Dan mengalirlah argument-argumen. Bla blab la. Akhirnya beliau menyerah juga debat dengan saya. Karena kami teman yang sesungguhnya, persahabatan kami sama sekali tidak terluka.
Cuma satu hal yang menyeramkan dalam ucapan teman saya itu: “Hati-hati, jangan sampai terdengar oleh ayah angkat saya. Kalau ia sampai tahu, kamu akan diusir dari rumah ini dan diharamkan menginjakkan kaki disini lagi.”
Ha?!

Juzamma

Saya rasa semua orang islam yang pandai baca Al Quran akan tahu dengan juzamma. Juz amma adalah juz ke 30 dari al Quran. Dan ini berarti ia bagian paling ujung dimana 38 dari 114 surat dalam al quran berada. Juz amma normalnya adalah bagian al quran yang pertama diajarkan pada anak-anak. Karena ayat-ayatnya pendek sehingga mudah dihapal. Ditambah lagi dengan rimanya yang jelas.
So saya memilih membaca sebuah terjemahan juz amma. Timbul pikiran di benak saya, kenapa orang islam begitu takut dengan neraka ketimbang tertarik dengan surga. Dalam jemaah ini, saya melihat mereka bicara tentang azab, dosa dan siksa kubur. Sebuah pembicaraan yang destruktif, yang sangat dihindari kaum perempuan normal. Itu mungkin kenapa islam lebih mementingkan laki-laki dari perempuan.
Saya menghitung dan menemukan suatu hal yang merisaukan, dari 524 ayat juz amma, 54% berbicara mengenai ancaman, dari siksa kubur, kiamat hingga siksa neraka.
Sebaliknya, hanya 17% ayat yang bicara tentang hadiah, seperti kenikmatan surga dan dunia, dan sisanya 29% adalah ayat-ayat yang bicara tentang sumpah-sumpah, hokum dan kosmologi.
Tidak heran bila sejak kecil, anak-anak sudah ditanamkan ancaman-ancaman mengerikan seperti ini, maka mereka cenderung untuk berbuat penuh dengan ketakuatan dan kecemasan.

Haji

Haji adalah seperangkat ritual yang merupakan rukun islam kelima.

Haji pra islam
Sebelum Muhammad mengajarkan islam, ibadah haji telah dilakukan oleh orang arab. Mereka berangkat setelah tiga hari pekan raya di Ukaz untuk melakukan tawaf ke ka’bah, dan masing-masing kabilah akan menyembelih kurban untuk tuhan-tuhan mereka. Kalau sudah menyembelih hewan, mereka akan mencari air sebelum naik ke arafah. Setiap orang yang singgah di mekkah akan membawa batu dari sekitar ka’bah. Sebagai penghormatan mendalam pada ka’bah dan cintanya pada Mekkah. Dimana mereka berada, batu itu akan mereka kelilingi seperti mengelilingi ka’bah. Dalam ziarah haji ke ka’bah, dalam tawaf mereka menyebut nama-nama tuhan. Beberapa kabilah ada yang mengatakan “Labbaika allahumma labbaika, labbaika la syarikalaka, kecuali dia sekutuMu, engkau yang memilikinya dan dia tidak memiliki.” Ada juga yang mengatakan “demi Lat dan Uzza, dan Manat, ketiga dan yang terakhir. Itulah garaniq yang luhur, perantaraannya sungguh dapat diharapkan.”
Mitos dibalik ibadah haji
Ada nama-nama penting seperti Adam, ibrahim, hajar, dan juga syetan; tempatnya adalah masjidil haram, mas’a, arafah, masy’ar, mina dan ka’bah yang merupakan symbol penting; ada peristiwa kurban, pakaian ihram dan sebagainya. Adam dan Hawa dalam keadaan berpisah, kemudian keduanya berdoa dengan yang disebutkan dalam al A’raf ayat 23. setelah itu Allah memerintahkan Adam untuk ibadah haji. Di Arafah iapun bertemu dengan Hawa. Ini menjadi mitos yang mendasari wukuf.
Ibrahim, istrinya Hajar dan Ismail, datang dari Palestina ke Mekkah. Di situ, Ibrahim diperintahkan [[[Allah]]] meninggalkan mereka berdua. Hajar yang bingung saat Ismail menangis berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah tujuh kali. Hingga akhirnya mata air muncul di bawah kaki Ismail yang kemudian menjadi sumur zam-zam. Ini menjadi mitos yang mendasari sa’I (berlari kecil).
Saat Ismail dewasa, Ibrahim diperintahkan Allah menyembelih Ismail. Sewaktu penyembelihan akan dilakukan, setan sempat menggoda Ibrahim, Hajar dan Ismail agar tidak melakukan hal ini. Ini pun menjadi mitos yang mendasari melempar batu (jumrah).
Saat Ibrahim hamper menyembelih Ismail, tubuh Ismail diganti Allah dengan domba jantan. Ini menjadi mitos yang mendasari qurban.

Kemiripan ibadah haji dengan ibadah siwa
1. Saat para jemaah menuju Mekkah, mereka dipinta mencukur kepalanya dan memakai pakaian khusus tanpa jahit.
2. Tempat utama Mekkah disebut Ka’bah. Rumah-rumah suci [[[shiva]]]/siwa juga disebut Kabah di India
3. Lambang bulan sabit yang dibuat sebagai lambang islam, juga dipakai siwa di keningnya.
4. Ka’bah Mekkah berdampingan dengan sumur zam-zam, begitu pula Kabah di India berdampingan dengan sungai suci Gangga.
5. Jemaah haji harus berputar 7 kali mengelilingi Ka’bah, begitu pula para pemuja Siwa.
6. Menyerukan namaz 5 kali sehari saat beribadah haji. Ini sama dengan ibadah 5 kali sehari para penyembah Siwa yang disebut panchmahayagna
7. Berwudu dengan 5 anggota tubuh setara dengan penyucian yang disebut swami-shydhyartham panchanga nyasati.
8. Memakai kalender bulan (Chandrapramana).

Salah satu hipotesis untuk menjelaskan kemiripan ini adalah kalau Arab dahulu pernah dijajah oleh kerajaan Vikramaditya dari India.

Barzanji

For your information, barzanji adalah sebuah syair arab yang dibuat untuk memuji Muhammad. Kami membaca barjanzi. Lantunannya sangat indah. Beramai-ramai kami berdiri. Saya membayangkan sebagai sang pengarang syair ini, sang Barjanzi sendiri, berdiri di depan khalifah, membaca syairnya dengan penuh penghayatan sehingga semua yang hadir meneteskan air mata. Sungguh, syair al Barjanzi sangat merdu, setara dengan simfoni Beethoven atau the Clouds karya Kitaro, atau bahkan musik pembuka Star Wars.
Lucunya, syair yang indah ini bukanlah bagian dari Quran. Dalam keharmonisan rimanya, saya rasa quran kalah jauh. Tidak ada surat dalam quran yang semerdu al Barjanzi. Mungkin karena al Barjanzi sendiri adalah karya sastra yang dibuat lebih modern, sekitar 400 tahun setelah Quran. Kedua, karena al Barjanzi tidak mengandung isi yang mengancam dengan neraka atau siksaan yang pedih. Isi Barjanzi adalah pujian-pujian pada keluhuran “moral” Muhammad beserta setumpuk mukjizat disekitarnya. Jika ada surat yang lebih baik dari surat al Rahman, ia adalah al Barjanzi.

Keabadian

Dalam sebuah terbitan Kristen, saya menemukan kalimat berikut ini:
Ada dua macam keabadian di dalam hidup ini. Abadi di surga bersama tuhan dan semua orang suci, atau keabadian di neraka bersama setan…. Dan hanya tergantung pada manusia kemana ia akan masuk. Tuhan ingin manusia semua berada di surga, dan ia telah dan sedang melakukan yang terbaik untuk kita agar kita masuk ke surga. Tihan, bahkan tuhan, tidak dapat lebih dari ini. Untuk Kristen, yahudi, muslim, tao, buddhis, hindu, semuanya!
Dan sangat mudah untuk hidup abadi di surga! Cukup percaya pada Yesus Kristus saat ini juga dan anda akan selamat!

Komentar saya:
Itu katanya begitu mudah.
Tapi lihat:
Bagi yahudi, Kristen adalah aliran sesat yang menyimpangkan ajaran agamanya dengan modifikasi. Anda tidak akan masuk surga kalau ikut ajaran sesat.
Bagi islam, tuhan tidak punya anak dan tidak diperanakkan. Anda tidak akan masuk surga kalau menganggap tuhan punya anak.
Bagi tao, ada banyak tuhan, yesus bias jadi salah satunya, tapi ada yang lebih hebat dari tuhan yaitu tao. Tao jauh lebih hebat lagi dari surga, kenapa harus mengejar surga.
Bagi hindu, ada lebih banyak lagi tuhan, tapi yesus bukan salah satunya. Bila ya, bagaimana hubungannya dengan tuhan lainnya?
Bagi Buddha, tidak perlu yesus untuk mencapai nirwana.
Bagi ateis, mana buktinya? Bukti kalau keabadian itu ada dua dan kalau agama anda benar?

Bukti

Sepanjang sejarah manusia, tidak pernah berkembang suatu bukti tentang adanya tuhan yang dapat diterima secara universal. Bukti-bukti klasik dari akal telah diolah oleh orang-orang yang sudah terlibat dengan percaya adanya tuhan. Orang-orang ateis tidak dapat diyakinkan oleh bukti-bukti tersebut; banyak orang ateis dari bermacam-macam tradisi menganggap bukti-bukti tersebut tidak sempurna.
Kita harus mengakui bahwa tak ada bukti tentang keberadaan tuhan secara final dan konklusif. Sehingga semua orang dapat menerima, dan kita harus mengakui pula bahwa tak ada konsep individual tentang tuhan menjadi final (pasti). John Baille mengutip kata Wiliam Temple dengan nada setuju, yaitu bahwa setiap kejadian merupakan pengungkapan dari tuhan; ia juga mengutip kata Paul Tillich bahwa tak ada realitas atau benda atau kejadian yang tak dapat menjadi pembawa ungkapan tuhan. Apakah tuhan selalu mengungkapkan dirinya kepada semua yang akan memberi respons? Diantara bermacam-macam ide dan pengalaman yang dianggap sebagai ungkapan tuhan, bagaimana kita dapat menetapkan mana yang benar? Kita perlu menggunakan pemikiran yang kritis, disini atau ditempat lain, jika soal-soal pengetahuan dilibatkan. Pengetahuan agama tidak merupakan hal yang terpisah sama sekali dan berbeda dari pengetahuan tentang bidang-bidang lain.

Referensi:
John Baillie, The Idea of Revelation in Recent Thought (New York: Columbia U Press, 1956) hh.70,74

Tauhid

Ini adalah komentar saya setelah membaca buku “Tauhid” karangan DR Abdul Aziz bin Muhammad dari departemen agama Saudi Arabia. Dari namanya kita tahu kalau buku ini bertujuan mengajarkan pembaca untuk Ittiba’ul Haq (mengikuti kebenaran). Mari kita lihat profil seorang muslim sejati yang digambarkan DR Abdul Aziz ini. Kesimpulan setiap point merupakan komentar saya
1. Mengamalkan Rukun Islam (hal 20). Jadi orang non muslim tidak benar.
2. Wajib menta’ati Nabi Muhammad Saw. Dalil: Al Hasyr 7. “Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah.”(hal 21)
Jadi seorang muslim harus menuruti perintah rasul seperti ini: “Jika salah seorang diantaramu pergi buang air, maka pergilah dengan membawa tiga buah batu, ia bersuci dengan ketiga buah batu itu, karena hal itu telah mencukupinya.”(HR Abu Dawu, Ahmad, Adduruqutni dan Ibnu Majah dari Aisyah ra).
3. Tidak minta tolong kecuali kepada Allah. Dalil al fatihah 5.(hal 41)
Jadi kalau motor anda rusak, jangan minta tolong pada tukang bengkel. Tapi berdoalah agar motor anda mendadak baik kembali.
4. Aqidah Islamiyah adalah wajib. Dalil: Rasulullah bersabda: “Aku diperintahkan memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah” (HR Bukhari dan Muslim)(hal 62)
Jadi pemaksaan dalam bentuk invasi militer itu halal. Dan tindakan imam samudera cs itu benar.
Sampai disini saya berhenti membaca. Buku yang tebalnya 240 halaman ini.

Tanya jawab ateisme

Richard Dawkins, penulis dari NY Times bestseller - The God Delusion – telah diwawancarai beberapa kali. Pertanyaan-pertanyaan ini berhubungan terutama dengan bukunya, pandangannya mengenai ateisme, moralitas dan dunia masa kini.
Ia mnjawab semua pertamaan dengan lancar dan percaya diri. Masing-masing membahas niatnya dan keinginannya menjelaskan pendapatnya paa beragai masalah.

Kenapa anda menentang agama?
Karena saya perduli pada kebenaran. Agama dan segala dogma sejeis adalah halangan terbesar pada kebenaran. Bukan hanya itu, saya khawatir mengenai posisi yang dinikmati agama dalam masyarakat kita. Anda dapat menyerang pendapat politik orang lain, mengkritik seorang pelatih sepak bola namun tidak dapat menyerang keyakinan agama seseorang. Ini semacam kekebalan dari kritik yang dinikmati oleh agama, padahal telah terbukti yang paling tidak logis.

ada miliaran orang di dunia mengikuti agama mereka dan hidup dengan sejahtera. Bagaimana anda menjelaskan hal ini?
Tentu saja, ada miliaran orang hidup secara religius dan sebagian besar mereka tidak berbahaya. Namun, mereka membawa virus keyakinan dengan mereka, yang akan mereka transmisikan ke generasi selanjutnya, dan dapat menciptakan wabah agama setiap saat. Seperti yang saya katakan, saya adalah orang yang perduli dengan kebenaran dan juga ingin melihat orang lain melihat kebenaran itu. Kebenaran ini bukan sebuah wahyu, namun kebenaran ini diperoleh lewat bukti-bukti dan percobaan-percobaan yang berulang.

ada para ilmuan yang religius. Bagaimana menurut anda?
Ya, sayangnya ada banyak ilmuan hebat seperti ini. Walau, saya tidak jelas memahami posisi mereka dalam hidup, tampak bagi saya, mereka bertindak seperti orang religius secara sadar untuk tujuan lain atau mengkompartementalisasi pandangan mereka berasarkan pada konteks.
Orang religius mengklaim mereka mendapatkan moralitas mereka dari agama. Dari mana seorang ateis mendapatkan moralitasnya?
Orang religius tidak mendapatkan moralitas mereka dari agama. Saya tidak setuju pada pendapat anda. Hampir semua dari kita setuju pada landasan moral kalau agama tidak punya pengaruh. Sebagai contoh, kita semua membenci perbudakan, kita ingin emansipasi wanita – semua berlandaskan moral. Landasan moral ini mulai terbangun beberapa abad lalu dan jauh setelah semua agama besar berdiri. Kita mendapatkan moralitas kita dari lingkungan kita tinggal, pergaulan, novel, surat kabar dan tentu saja panduan orang tua. Agama hanya berperan kecil saja. Seorang ateis mendapatkan moralitasnya dari sumber yang sama seperti orang religius.

Tapi semua buku religius memberikan panduan moral pada masyarakat, seperti jangan membunuh tetangga. Kenapa anda piker mereka masih buruk?
Buku religius tidak berbicara mengenai jangan membunuh tetangga anda, disaat yang sama mereka mengajarkan agar wanita jangan menunjukkan kulitnya atau mengajarkan agar membunuh orang kafir. Tuhan dari perjanjian lama, seperti yang saya jelaskan, bukanlah tokoh yang baik. Tuhan jelas jauh lebih baik di perjanjian baru. Walaubegitu, saat anda memilih ayat yang bagus dari sebuah buku religius, parameternya, yang anda pakai, tidak pasti dating dari agama sendiri. Sebagai contoh, saat anda mengatakan perjanjian baru itu lebih baik, anda jelas tidak memakai umat Kristen sebagai hakimnya. Parameter yang anda pakai, adalah efek dari moralitas yang telah ada pada diri anda, terasimilasi dari berbagai sumber dalam pengalaman hidup anda.

Dalam buku anda, anda mengatakan kalau tuhan ‘hampir pasti’ tidak ada. Kenapa anda masih menyisakan kemungkinan?
Siapapun orang ilmiah akan terbuka pada kemungkinan, kalau mereka tidak dapat menyangkal peristiwa apapun secara mutlak. Saya akan menjadi orang pertama yang menerima keberadaan tuhan saat bukti keberadaannya muncul.
Jadi anda menerima kalau sains tidak dapat menyangkal keberadaan tuhan. Apa masalahnya bila orang mengikuti agama hingga tuhan sepenuhnya terbukti tidak ada?
Sains tidak dapat membuktikan ketiadaan tuhan sama halnya dengan sains tidak dapat membuktikan ketiadaan Apollo atau Juju atau Thor dan palunya atau bahkan monster bakso terbang yang menciptakan alam semesta. Walaubegitu, kita tidak percaya mereka ada. Kita juga tidak percaya para peri dari novel Hans Andersen ada walau kita tidak dapat membuktikan mereka tidak ada. Untuk meyakini sebuah peristiwa yang tidak mungkin atau meyakini suatu tuhan karena kita tidak dapat menyangkal keberadaannya, kedengarannya bodoh bagi saya.

kenapa anda tidak berpikir kalau alam semesta, begitu luas, rumit dan misterius, tidak merupakan ciptaan suatu tuhan, sementara kita melihat semua hal yang rumit faktanya diciptakan?
Pertama bila anda menganggap kalau semua hal yang rumit diciptakan, maka suatu tuhan, mampu menciptakan alam semesta yang rumit, mestinya juga rumit dan dengan sendirinya mempunyai pencipta. Disisi lain, bila anda mengikuti jalur evolusi Darwinian, anda akan melihat bagaimana organisme rumit dapat terujud dari hal-hal sederhana hanya lewat proses seleksi alam. Dan ini jauh lebih logis untuk diyakini kalau kita dan alam semesta secara umum, berawal dari sesuatu yang lebih sederhana, bukan dari sesuatu yang lebih rumit yang disebut sang pencipta.

saat anda berdiri di puncak gunung tidakkah keluasan dunia membuat anda terkesan? Tidak kah anda merasa tak ada apa-apanya dibandingkan keindahan alam dan hokum misterius dibalik keluasan alam semesta?
Tentu saja. Dan saya telah menyebutkan tentang itu pada bab pertama buku saya sebagai spiritualitas yang diikuti oleh Einstein. Ia begitu terkesan dengan misteri dunia dan akan berupa hal yang begitu menyenangkan untuk menjelajahinya. Ini semacam spiritualitas yang tidak membutuhkan tuhan, sebuah tokoh pribadi untuk menjelaskan misteri alam. Ia sedikit berbeda dengan agama yang berpusat disekitar tuhan yang dapat membaca pikiran, melacak dosa, mengadili orang setelah mati dengan menghukum orang yang kafir dan mengatur alam semesta.

apa pendapatmu mengenai Stalin dan Hitler yang ateis?
Saya telah katakana dalam buku saya kalau Hitler sama sekali bukan seorang ateis, dimana ia secara religius disimpangkan untuk melawan orang yahudi. Saya telah mengatakan kalau tidak satupun dari kita, mendapatkan moralitas kita dari agama. Stalin, faktanya, memakai komunisme dogmatis sebagai sumber moralitasnya – bila kita dapat menyebutnya moralitas. Menjadi ateis tidak membuat anda menjadi dogmatis atau komunis, namun meminta anda untuk tidak percaya adanya tuhan. Seseorang yang bekerja dalam kelompok mafia bias jadi seorang ateis walau tidaklah logis mengatakan kalau ateisme memaksa ia untuk menjadi anggota mafia. Ada rekan-rekannya sesame mafia yang religius.

kenapa anda menghubungkan agama dengan pelecehan terhadap anak?
Saya menghubungkan pelabelan anak-anak sebagai ‘anak yahudi’ atau ‘anak muslim’ sebagai pelecehan terhadap anak, karena, di masa anak-anak mereka belum dapat memilih pandangan religius mereka. Bukan hanya itu, mereka dibesarkan dalam kelompok terpisah dari agama lain dan pandangan agama mereka disamakan dengan pandangan agama orang tuanya. Merusak pandangan anak-anak jelas termasuk pelecehan terhadap anak.

Ambisi anda adalah orang yang membaca buku anda harus meninggalkan keyakinan mereka. Benar demikian?
Tidak membahayakan mengharap sesuatu dan anda bias mengatakan kalau itu adalah ambisi saya. Namun, secara praktis, kita ingin orang yang mengikuti jalan tengah, yang tidak pernah berpikir mendalam mengenai topic ini, berpikir dua kali dan secara sadar menolak keberadaan tuhan. Juga, saya dapat melihat bahwa di AS 10-15% masyarakat adalah ateis, lebih besar dari kelompok agama minoritas lainnya. Walau begitu, mereka tidak punya kekuatan politik atau lobi dibandingkan dengan lobi yahudi yang kuat. Saya ingin ateis bersatu dan membuat sebuah pandangan politik netral dari tuhan, pandangan mereka sendiri, untuk keseimbangan yang lebih baik di dunia.

Referensi

1) Wawancara dengan Jeremy Paxman di BBC.

2) Wawancara di CNN pada hari Darwin.

3) Wawancara TV Ontario (bagian 1, bagian 2 dan bagian 3).

4) Wawancara The Hour (bagian 2).

5) The debate - bagian 1, bagian 2 dan bagian 3.

6) RichardDawkins.net untuk sumber wawancara/debat lebih banyak.

Keluarga

Alkisah di surga dua orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian sedang berbicara di tepian salah satu sungai di surga.
Dafit : Syukur Alhamdulillah, saya akhirnya masuk surga. Sungguh karunia yang luar biasa mengingat pengorbananku untuk masuk surga, saudara Hairil.
Hairil: alhamdulillah. Apa yang kau korbankan sehingga menjadi golongan orang yang menang, saudaraku Dafit?
Dafit: Aku mengorbankan anakku. Beliau saat dewasa lalu pindah agama dan menjadi seorang penyembah api. Ia musyrik. Dia mengatakan kalau tuhan ada dua, yang baik dan yang jahat. Jadi saya usir dia dari rumah dan tidak saya akui lagi sebagai anak saya. Betapa sedihnya saya tapi saya harus mengikuti perintah Allah. Sekarang saya tidak tahu ia ada dimana.
Hairil:jelas di neraka. Bersama istri saya.
Dafit: kenapa istrimu, wahai Hairil?
Hairil: Saya bias masuk surga karena istri saya. Istri saya pindah agama ke agama tradisionalnya yang menyembah Latta dan Uzza. Saya sungguh mencintainya, tapi karena perintah Allah, ia saya ceraikan. Ia lalu depresi dan bunuh diri. Karena pahala itu saya masuk surga.
Dafit: Alhamdulillah
Subaidi: Assalamu alaikum wr wb
Dafit dan Hairil: Walaikum salam hi ta’ala wabarakatu
Dafit: Dari mana saudara Subaidi?
Subaidi: Saya baru saja ML dengan ke 70 bidadari saya dan kedua istri saya. Orang hedonis kafir di dunia pasti sangat iri. Hehehe. Sedang membahas apa ini?
Hairil: Kami sedang membahas kenapa kami bias masuk surga. Oh ya, mau arak? Silakan dipinum. Ini arak asli loh.
Subaidi: Kalau saya masuk surga karena ayah saya.
Dafit: Kenapa ayahmu Subaidi? Apakah ia mengajarkanmu menjadi orang saleh dan bertakwa?
Subaidi: Tidak. Sebaliknya, beliau menjadi ateis.
Hairil: Dia pasti sedang disiksa di neraka jahannam dengan istri saya dan anak kesayangan Dafit bersama orang-orang murtad.
Subaidi: Tidak. Tidak sama sekali. Ia sekarang berada di samping Allah.
Dafit: Ha? Koq bisa?
Subaidi: Lha wong Allah juga ateis.

Didukung oleh : Quran surah al mujadilah 58:22
“ Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”