Richard Dawkins, penulis dari NY Times bestseller - The God Delusion – telah diwawancarai beberapa kali. Pertanyaan-pertanyaan ini berhubungan terutama dengan bukunya, pandangannya mengenai ateisme, moralitas dan dunia masa kini.
Ia mnjawab semua pertamaan dengan lancar dan percaya diri. Masing-masing membahas niatnya dan keinginannya menjelaskan pendapatnya paa beragai masalah.
Kenapa anda menentang agama?
Karena saya perduli pada kebenaran. Agama dan segala dogma sejeis adalah halangan terbesar pada kebenaran. Bukan hanya itu, saya khawatir mengenai posisi yang dinikmati agama dalam masyarakat kita. Anda dapat menyerang pendapat politik orang lain, mengkritik seorang pelatih sepak bola namun tidak dapat menyerang keyakinan agama seseorang. Ini semacam kekebalan dari kritik yang dinikmati oleh agama, padahal telah terbukti yang paling tidak logis.
ada miliaran orang di dunia mengikuti agama mereka dan hidup dengan sejahtera. Bagaimana anda menjelaskan hal ini?
Tentu saja, ada miliaran orang hidup secara religius dan sebagian besar mereka tidak berbahaya. Namun, mereka membawa virus keyakinan dengan mereka, yang akan mereka transmisikan ke generasi selanjutnya, dan dapat menciptakan wabah agama setiap saat. Seperti yang saya katakan, saya adalah orang yang perduli dengan kebenaran dan juga ingin melihat orang lain melihat kebenaran itu. Kebenaran ini bukan sebuah wahyu, namun kebenaran ini diperoleh lewat bukti-bukti dan percobaan-percobaan yang berulang.
ada para ilmuan yang religius. Bagaimana menurut anda?
Ya, sayangnya ada banyak ilmuan hebat seperti ini. Walau, saya tidak jelas memahami posisi mereka dalam hidup, tampak bagi saya, mereka bertindak seperti orang religius secara sadar untuk tujuan lain atau mengkompartementalisasi pandangan mereka berasarkan pada konteks.
Orang religius mengklaim mereka mendapatkan moralitas mereka dari agama. Dari mana seorang ateis mendapatkan moralitasnya?
Orang religius tidak mendapatkan moralitas mereka dari agama. Saya tidak setuju pada pendapat anda. Hampir semua dari kita setuju pada landasan moral kalau agama tidak punya pengaruh. Sebagai contoh, kita semua membenci perbudakan, kita ingin emansipasi wanita – semua berlandaskan moral. Landasan moral ini mulai terbangun beberapa abad lalu dan jauh setelah semua agama besar berdiri. Kita mendapatkan moralitas kita dari lingkungan kita tinggal, pergaulan, novel, surat kabar dan tentu saja panduan orang tua. Agama hanya berperan kecil saja. Seorang ateis mendapatkan moralitasnya dari sumber yang sama seperti orang religius.
Tapi semua buku religius memberikan panduan moral pada masyarakat, seperti jangan membunuh tetangga. Kenapa anda piker mereka masih buruk?
Buku religius tidak berbicara mengenai jangan membunuh tetangga anda, disaat yang sama mereka mengajarkan agar wanita jangan menunjukkan kulitnya atau mengajarkan agar membunuh orang kafir. Tuhan dari perjanjian lama, seperti yang saya jelaskan, bukanlah tokoh yang baik. Tuhan jelas jauh lebih baik di perjanjian baru. Walaubegitu, saat anda memilih ayat yang bagus dari sebuah buku religius, parameternya, yang anda pakai, tidak pasti dating dari agama sendiri. Sebagai contoh, saat anda mengatakan perjanjian baru itu lebih baik, anda jelas tidak memakai umat Kristen sebagai hakimnya. Parameter yang anda pakai, adalah efek dari moralitas yang telah ada pada diri anda, terasimilasi dari berbagai sumber dalam pengalaman hidup anda.
Dalam buku anda, anda mengatakan kalau tuhan ‘hampir pasti’ tidak ada. Kenapa anda masih menyisakan kemungkinan?
Siapapun orang ilmiah akan terbuka pada kemungkinan, kalau mereka tidak dapat menyangkal peristiwa apapun secara mutlak. Saya akan menjadi orang pertama yang menerima keberadaan tuhan saat bukti keberadaannya muncul.
Jadi anda menerima kalau sains tidak dapat menyangkal keberadaan tuhan. Apa masalahnya bila orang mengikuti agama hingga tuhan sepenuhnya terbukti tidak ada?
Sains tidak dapat membuktikan ketiadaan tuhan sama halnya dengan sains tidak dapat membuktikan ketiadaan Apollo atau Juju atau Thor dan palunya atau bahkan monster bakso terbang yang menciptakan alam semesta. Walaubegitu, kita tidak percaya mereka ada. Kita juga tidak percaya para peri dari novel Hans Andersen ada walau kita tidak dapat membuktikan mereka tidak ada. Untuk meyakini sebuah peristiwa yang tidak mungkin atau meyakini suatu tuhan karena kita tidak dapat menyangkal keberadaannya, kedengarannya bodoh bagi saya.
kenapa anda tidak berpikir kalau alam semesta, begitu luas, rumit dan misterius, tidak merupakan ciptaan suatu tuhan, sementara kita melihat semua hal yang rumit faktanya diciptakan?
Pertama bila anda menganggap kalau semua hal yang rumit diciptakan, maka suatu tuhan, mampu menciptakan alam semesta yang rumit, mestinya juga rumit dan dengan sendirinya mempunyai pencipta. Disisi lain, bila anda mengikuti jalur evolusi Darwinian, anda akan melihat bagaimana organisme rumit dapat terujud dari hal-hal sederhana hanya lewat proses seleksi alam. Dan ini jauh lebih logis untuk diyakini kalau kita dan alam semesta secara umum, berawal dari sesuatu yang lebih sederhana, bukan dari sesuatu yang lebih rumit yang disebut sang pencipta.
saat anda berdiri di puncak gunung tidakkah keluasan dunia membuat anda terkesan? Tidak kah anda merasa tak ada apa-apanya dibandingkan keindahan alam dan hokum misterius dibalik keluasan alam semesta?
Tentu saja. Dan saya telah menyebutkan tentang itu pada bab pertama buku saya sebagai spiritualitas yang diikuti oleh Einstein. Ia begitu terkesan dengan misteri dunia dan akan berupa hal yang begitu menyenangkan untuk menjelajahinya. Ini semacam spiritualitas yang tidak membutuhkan tuhan, sebuah tokoh pribadi untuk menjelaskan misteri alam. Ia sedikit berbeda dengan agama yang berpusat disekitar tuhan yang dapat membaca pikiran, melacak dosa, mengadili orang setelah mati dengan menghukum orang yang kafir dan mengatur alam semesta.
apa pendapatmu mengenai Stalin dan Hitler yang ateis?
Saya telah katakana dalam buku saya kalau Hitler sama sekali bukan seorang ateis, dimana ia secara religius disimpangkan untuk melawan orang yahudi. Saya telah mengatakan kalau tidak satupun dari kita, mendapatkan moralitas kita dari agama. Stalin, faktanya, memakai komunisme dogmatis sebagai sumber moralitasnya – bila kita dapat menyebutnya moralitas. Menjadi ateis tidak membuat anda menjadi dogmatis atau komunis, namun meminta anda untuk tidak percaya adanya tuhan. Seseorang yang bekerja dalam kelompok mafia bias jadi seorang ateis walau tidaklah logis mengatakan kalau ateisme memaksa ia untuk menjadi anggota mafia. Ada rekan-rekannya sesame mafia yang religius.
kenapa anda menghubungkan agama dengan pelecehan terhadap anak?
Saya menghubungkan pelabelan anak-anak sebagai ‘anak yahudi’ atau ‘anak muslim’ sebagai pelecehan terhadap anak, karena, di masa anak-anak mereka belum dapat memilih pandangan religius mereka. Bukan hanya itu, mereka dibesarkan dalam kelompok terpisah dari agama lain dan pandangan agama mereka disamakan dengan pandangan agama orang tuanya. Merusak pandangan anak-anak jelas termasuk pelecehan terhadap anak.
Ambisi anda adalah orang yang membaca buku anda harus meninggalkan keyakinan mereka. Benar demikian?
Tidak membahayakan mengharap sesuatu dan anda bias mengatakan kalau itu adalah ambisi saya. Namun, secara praktis, kita ingin orang yang mengikuti jalan tengah, yang tidak pernah berpikir mendalam mengenai topic ini, berpikir dua kali dan secara sadar menolak keberadaan tuhan. Juga, saya dapat melihat bahwa di AS 10-15% masyarakat adalah ateis, lebih besar dari kelompok agama minoritas lainnya. Walau begitu, mereka tidak punya kekuatan politik atau lobi dibandingkan dengan lobi yahudi yang kuat. Saya ingin ateis bersatu dan membuat sebuah pandangan politik netral dari tuhan, pandangan mereka sendiri, untuk keseimbangan yang lebih baik di dunia.
Referensi
1) Wawancara dengan Jeremy Paxman di BBC.
2) Wawancara di CNN pada hari Darwin.
3) Wawancara TV Ontario (bagian 1, bagian 2 dan bagian 3).
4) Wawancara The Hour (bagian 2).
5) The debate - bagian 1, bagian 2 dan bagian 3.
6) RichardDawkins.net untuk sumber wawancara/debat lebih banyak.